Surin Pitsuwan dan Wajah Islam Thailand

Surin Pitsuwan
Sumber Foto: Bangkok Post

Oleh Nabhan Aiqoni*

Berawal dari sebuah keisengan mencari-cari berita seputar ASEAN, tepatnya pada tahun 2014, saya diarahkan pada video pidato sekretaris jendral ASEAN. Saya sempat dibuat penasaran, dengan paras dan perawakan yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa beliau seorang Thailand, malah lebih mirip dengan orang Indonesia kebanyakan. Rasa penasaran itu mengarahkan saya untuk mengeksplorasi lebih lanjut tentang sosok yang menjabat sebagai sekretaris jendral ASEAN dari tahun 2008 sampai 2013, Dr. Surin Pitsuwan.

Ketika pertama kali mengenal nama beliau, semua pasti berpikir bahwa beliau benar seorang Thailand tulen (dan memang beliau seorang Thailand), namun siapa sangka dibalik nama Surin Pitsuwan yang tersoroh di berbagai komunitas regional maupun internasional, ternyata nama asli beliau adalah Dr. Surin Abdul Halim bin Ismail Pitsuwan. Kita dibuat terhenyak sebentar, seolah tidak percaya bahwa sosok yang menjadi figur publik, politisi, akademisi, bahkan capaian tertinggi beliau dalam karir politik dan pemerintahan sempat membawanya menjadi menteri luar negeri Thailand, adalah seorang muslim.

Mungkin, paradigma akan mayoritas Thailand yang beragama Buddha menambah rasa keterhenyakan itu, sosok Surin seolah menjadi pendobrak, dan mampu berdiri sejajar mengisi panggung elit pemerintahan dan politik Thailand begitupun regional ASEAN.

Tentang identitasnya sebagai Muslim, Surin tidak pernah menutupinya, ia seringkali memperlihatkan pada umum identitas muslimnya tersebut. “I’m budak pondok,” ujarnya saat bertemu Republika, pada Maret 2009. Surin putra Thailand Selatan yang mendapat pendidikan pesantren sebelum mendapat pendidikan tinggi. Kepada Republika, ia sempat bertutur, tidak mudah bagi lingkungannya menerima keputusannya untuk melanjutkan sekolah bahkan hingga ke Harvard University, Amerika Serikat. Surin seringkali menyebut dalam beberapa kesempatan wawancara bahwa dirinya sebagai anak pondok dari provinsi di Thailand Selatan yang kumuh.

Menanggapi meninggalnya Surin, Kementerian luar negeri Thailand dalam sebuah pernyataan mengatakan Surin memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan dan kepentingan ASEAN, serta promosi ASEAN di tingkat internasional. “Kepribadian, pengetahuan dan kebijaksanaannya yang luar biasa benar-benar diakui oleh para pemimpin global,” katanya. Namanya pun sempat digadang-gandang akan mengisi posisi Sekretaris Jendral PBB.

Dr. Surin sendiri merupakan putra seorang guru Islam, lahir pada tahun  28 Oktober1949 di distrik Muang, provinsi Nakhon Si Thammarat, Thailand selatan. Tujuh puluh lima tahun yang lalu, ayah dan kakeknya mendirikan sebuah pondok (madrasah) di Thailand Selatan, sebuah pesantren. Tiga tahun kemudian, Surin lahir. Pada usia dua tahun, orang tuanya meninggalkannya dalam perawatan kakek dan neneknya dan pergi ke Saudi untuk belajar. Dibesarkan oleh kakeknya, ia dididik dalam studi Islam di pondok tersebut namun juga menghadiri sekolah kuil Budha untuk pendidikan dasarnya. ‘Di pagi hari saya akan mengenakan seragam, berjalan tanpa alas kaki ke sekolah di sebuah kuil yang dibawakan oleh biksu Buddha. Ketika saya pulang ke rumah saya akan ganti kembali ke pakaian Melayu – sarung, kepia dan baju melayu. Jadi saya mulai dari awal tinggal di lingkungan multikultural, “katanya.

Dengan latar belakang lingkungan dan kehidupan yang kentara dengan nilai-nilai Islam namun dilingkupi oleh mayoritas Buddha, Surin menjelma menjadi seorang muslim yang toleran dengan memegang teguh ajaran agama. Pada The Straits Times ia juga sempat menyebut, bahwa “meskipun dirinya arkrab dengan filosofi dan pemikiran politik barat, tapi Asia Tenggara tetaplah nomor satu di hatinya.” Dengan kata lain, beliau tidak serta merta tercerabut dari akar identitas dan kultural sebagai muslim dan juga sebagai bangsa Timur, meskipun sempat mengenyam pendidikan barat dan sekuler.

“Pondok” sebagaimana disebutkan oleh Surin Pitsuwan merupakan institusi keagamaan tradisional yang paling dikagumi dan dihormati di Asia Tenggara, bahkan oleh elit politik dan religius Thailand. Meskipun dilain sisi, muncul juga anggapan tentang intitusi pendidikan islam yang hanya memberikan kontribusi kecil bagi Thailand modern. Lebih parahnya lagi, dianggap sebagai pengganggu, dan menjadi inspirasi ideologis bagi munculnya separtis muslim di Thailand Selatan.

Walaupun demikian, Surin Pitsuwan adalah contoh tentang bagaimana pondok menciptakan karakteristik seorang individu. Sikap beliau yang terbuka dan membuatnya berbeda dari politikus Asia pada umumnya, dapat dikatakan sebagai pengaruh tidak langsung dari interaksi beliau di pondok. Sebab, instusi keagamaan “Pondok” menurut Hasan Madmarn dalam bukunya The Pondok and Madrasah in Pattani merupakan intitusi yang tetap menjadi denyut jantung bagi Melayu Muslim Thailand di Selatan, bahkan hingga era globalisasi sekarang ini.

Kesederhanaan yang terpancar dari sosok Surin Pitsuwan disertai dengan wajah murah senyum seolah mematahkan tesis radikalnya muslim di Thailand Selatan. Kelompok yang selama ini dianggap sebagai separatis dan ingin memberlakukan syariat Islam secara ketat. Ia hadir dengan visinya dalam beberapa kali kesempatan memberikan kuliah umum, dengan tema-tema islam dan demokrasi. Surin juga bukan seorang yang puritan dan membatasi diri untuk berinteraksi dengan siapapun, bahkan ia pernah menyebut bahwa pendidikan Islam tidak boleh membatasi diri. Baginya semangat Islam (Spirit of Islam) adalah membiarkan individu dengan kecerdasannya sendiri untuk dapat membuat penilaian atas beberapa masalah dengan berlandaskan semangat Islam.”

Dia mengatakan ketika ditafsirkan secara harfiah, yang merupakan pendekatan fundamentalis, ada kecenderungan untuk membatasi pola pikir, dan membatasi ruang dalam berinteraksi dengan dunia. Dunia adalah ruang yang beragam. Setiap orang adalah minoritas di dunia global. Kita tidak tinggal di planet ini sendirian. Jika jalan kita adalah satu-satunya cara yang tidak termasuk yang lain, maka itu akan mengubah kita menjadi sebuah pulau. Sebuah pulau yang tidak aman dan kurang percaya diri dalam berinteraksi dengan dunia.

Oleh karenanya, duka cita atas meninggalnya Dr. Surin Abdul Halim bin Ismail Pitsuwan pada 30 November 2017 menyisakan kesedihan mendalam. Beliau adalah figur tak kenal lelah untuk memperjuangkan kemanusiaan dan perdamaian lewat lajur yang dia tekuni, yakni dunia diplomasi. Kematiannya pun menjelang sewaktu beliau akan mempersiapkan sebuah pidato dalam Halal Convention di Bangkok.

Jenazah negarawan berusia 68 tahun itu dibaringkan sekitar pukul 16.30 waktu setempat di sebuah pemakaman Muslim yang berdekatan dengan Masjid Tha It di Nonthaburi, Bangkok tak jauh dari tempat tinggalnya, yang dihadiri oleh ratusan orang dari komunitas Muslim setempat.

Benar bila dikatakan, Surin Pitsuwan merupakan negarawan dari Thailand Selatan (Pattani), dan segala pencapaianya merupakan pretasi bagi masyarakat muslinm Thailand. Begitupun dengan kematiannya merupakan sebuah kehilangan terbesar bagi muslim Thailand itu sendiri.

*Nabhan Aiqoni adalah seorang peniliti di Andalas Institute for International and Strategic Studies (ASSIST) Universitas Andalas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s