Jalan Singkat Memaknai Studi Hubungan Internasional

874bdf2c-783c-40c7-b711-7d104dc25cc5.jpg

*Oleh Satya Wira Wicaksana

Pada dasarnya tidak ada jalan singkat dalam menuntut ilmu, namun ada beberapa langkah yang merumuskan sebagian besar dari ilmu tersebut agar menjadi pedoman singkat.

Tulisan ini terinspirasi dari tulisan Stephen M. Walt di kolom Foreign Policy, namun saya mencoba menulis ulang dengan pemahaman saya sendiri. Hanya selang beberapa bulan ke depan, universitas-universitas di Indonesia akan menghadapi tahun ajaran baru yang artinya akan semakin banyak mahasiswa baru.

Seturut pengalaman pribadi, para mahasiswa baru yang mengambil Studi Hubungan Internasional sebagai jurusan yang mereka pilih pada awalnya bingung kalau jurusan tersebut akan membahas apa dalam perkuliahannya.

Secara mayoritas, para mahasiswa baru akan berpikiran kalau Studi HI hanya erat dengan Bahasa Inggris dan predikat “internasional” sebagaimana yang disematkan di nama jurusan tersebut dan belum mengetahui apa yang akan dibahas lebih dalam saat perkuliahan. Akan tetapi, saya mencoba merangkumnya sedikit demi sedikit agar lebih mudah dipahami dan sebelum lebih jauh, esensi penting dari Studi HI adalah politik.

Studi Hubungan Internasional pertamakali dijadikan kajian akademik yang resmi pada tahun 1919 Universitas Wales di Aberystwyth Inggris (sekarang menjadi Universitas Aberystwyth). Dibentuknya studi ini bertujuan untuk menghindari perang dan pada dasarnya tidak memiliki satu padanan ilmu yang pasti untuk berdiri, maka dari itu Studi HI merupakan kajian yang interdisipliner atau yang terdiri dari banyak ilmu.

Kendati terdiri dari banyak ilmu, secara masif, ilmu yang menjadi esensi Studi HI adalah Ilmu Politik lalu menyatut ilmu-ilmu lainnya seperti ekonomi, filsafat, sejarah, hukum, bahkan matematika. Untuk merangkumnya, tulisan ini terdiri dari beberapa poin penting yang sering dibahas dalam perkuliahan Studi HI.

  • Anarki

Kita kesampingkan dulu dulu Bakunin dan sederet anarcho lainnya yang ingin menyabik-nyabik keberadaan negara dan mendambakan kehidupan yang swakelola, sebab kondisi anarki yang sebenarnya terjadi adalah pada lingkup internasional.

Hal ini tentu saja berbeda dengan kondisi domestik yang hirarki (pemerintah-rakyat), sementara dalam lingkup internasional, semua negara memiliki otoritasnya masing-masing, tidak ada di bawah, tidak ada di atas. Singkatnya, dalam ranah internasional, tidak ada negara di atas negara (yang menjadi polisi sebagai pengaman dan menolong).

Akan tetapi, kondisi anarki internasional ini tidak menutup kemungkingan untuk terjadinya kerjasama dan sekali waktu saling tolong-menolong antar negara. Kondisi ini tidak sekadar mengenai hukum rimba internasional, namun, keamanan (security) berada pada tingkat yang paling utama dan ketakutan (fear) terus membayangi di bawah hubungan-hubungan antarnegara.

  • Perimbangan Kekuatan (Balance of Power)

Negara-negara dalam ranah internasional pada dasarnya khawatir dan cenderung terlalu peduli dengan negara mana yang kuat, mana yang sedang terpuruk atau sedang bangkit, dan langkah apa yang harus diambil untuk keluar dari keadaan yang inferior. BOP (Balance of Power) membantu para penstudi HI dalam menjelaskan bagaimana negara-negara mengidentifikasikan sekutu-sekutu yang potensial dan apakah perang akan menjadi lebih hebat atau sekadar saja.

Dikarenakan kondisi dari ranah internasional adalah anarki, maka negara-negara di dunia terpaksa hidup dalam keadaan yang memaksa untuk bertahan hidup atau, dalam Studi HI lebih sering disebut, self-help.

Dari ketakutan sampai self-help, negara-negara berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik baik dari segi militer, ekonomi, dan diplomasi (pengaruh terhadap negara lain) dan pada keadaan inilah terciptanya perdamaian karena masing-masing negara sibuk menaikkan kualitas negara mereka. Tipikal alami dari BOP adalah, biasanya negara-negara, kalau tidak menaikkan tingkat kekuatannya sendiri ya dengan cara membentuk aliansi.

Meski pun dunia sudah mencapai kondisi BOP, hal itu belum cukup kuat untuk membuat negara-negara merasa aman karena rasa akan takut itu alami (dalam keadaan yang anarki). Seusai terjadinya BOP, negara-negara di dunia memasuki fase dilema keamanan (security dilemma) yang membuat kondisi negara-negara di dunia kembali untuk meningkatkan kapabilitasnya masing-masing.

  • Keunggulan Komparatif (Comparative Advantage/Gains from Trade)

Yang satu ini, khusus bagi para mahasiswa HI yang berminat mengambil konsentrasi ekonomi politik internasional. Konsep ini merefleksikan seluruh pemikiran ekonom liberal yang menjadi pedoman dalam perdagangan bebas dan terjadinya proses globalisasi saat ini. Esensi dari ide sebenarnya sederhana, yaitu perdagangan internasional akan terjadi jika negara-negara yang terlibat melakukan perdagangan yang memiliki keunggulan komparatif.

Di saat yang bersamaan, pedagangan tersebut akan lebih untung jika negara-negara memproduksi lebih banyak barang dan jasa dengan harga yang lebih murah daripada negara lainnya.

Dengan demikian, negara-negara memiliki keunggulan masing-masing yang dapat dibandingkan. Para penstudi HI akan mengalami kesulitan dalam melihat jaringan perdagangan internasional jika tidak memahami realita yang dibawa oleh teori ini.

  • Kondisi dalam Negeri

Saya masih ingat ketika saya pertamakali menjadi mahasiswa dan salahsatu dosen berceramah tentang keberadaan Studi HI itu sendiri. Esensi dari Studi HI, selain untuk mencegah perang, tidak lain tidak bukan adalah untuk menjadi seorang nasionalis—bukan chauvinis. Hal itu dikarenakan negara-negara bertindak dalam perpolitikan internasional berdasarkan kepentingan dalam negerinya.

Maka sebabnya, agen internasional yang sering didengungkan kepada mahasiswa HI bukan untuk membawa budaya luar ke dalam, namun untuk membawa budaya dalam ke luar.

Kebijakan luar negeri suatu negara merupakan cerminan dari kepentingan dalam negerinya. Sebagai contoh, ketika mahasiswa HI melihat konflik Israel-Palestina. Dalam memandang konflik panas ini, mahasiswa sebaiknya menghindari diri dari teori konspirasi Illuminati dan Freemason yang kerap beredar di toko buku.

Sekurangnya, mahasiswa dapat melihat dari kondisi dalam negeri Israel dan Palestina kemudian berujung konflik lintas negara yang ternyata konflik biasanya mencuat pada masa kampanye partai-partai politik Israel. Salah satu partai dalam negeri Israel, yaitu Likud, ternyata menggunakan isu keamanan sebagai kampanye politiknya.

Atau dari contoh lain, mengapa Indonesia begitu gencar dalam mendeklarasikan Poros Maritim yang kemudian disimpulkan bahwa kondisi dalam negeri dan kondisi alamiah Indonesia merupakan negara kepulauan.

Empat poin di atas merupakan hal-hal yang sering dibahas dalam Studi HI, meskipun ada beberapa poin lainnya yang akan menjadi pembahasan penting dalam memahami Studi HI. Salah satu dosen saya di Universitas Riau pernah mengatakan, “dari satu sampai sepuluh, satu sampai sembilannya adalah membaca dan yang kesepuluh adalah menulis.”

Barangkali itu benar, sebab dalam tahap yang kesepuluh, yaitu menulis, terdapat proses pemahaman dan perenungan di dalamnya. Tentu saja, untuk memahami Studi HI tidak akan pernah cukup membaca tulisan ini, namun jangan khawatir, tulisan ini merupakan salahsatu jalan singkat menuju pemahamannya.

*Satya Wira Wicaksana merupakan salahsatu peneliti di FAIR Riau. Saat ini, beliau sedang menyelesai sederet tulisan dan penelitiannya untuk dipublikasikan. Tulisan ini merupakan salinan dari akun Qureta beliau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s